Open Tahfiz Centre

IBADAH KORBAN DAN AQIQAH 1435/2014

Ayuh sertai program korban dan aqiqah di negara yang minoriti muslim.

TAWAKKAL

Bertawakallah Tanpa Ingkari Sunnnatullah

Pengajian Fleksibel

Antara Kemudahan yang disediakan di Open Tahfiz Centre, Belajar Secara Personal Pada Bila-bila masa.

KEMANISAN IMAN

Indahnya Menperoleh Kemanisan Iman

Khamis, 6 Februari 2014

BUHAISAH - Pendamai dunia yang dilupakan.

Gambar Hiasan
Pada masa jahiliyah terjadi perang panjang selama empat puluh tahun antarasuku Abs dan Dzubyan, perang berkepanjangan ini menghancurkan harta dan nyawa dalam jumlah besar. Perang berhenti ketika ada dua orang Al-Harits bin Auf dan Harim bin Sinan mendamaikan kedua suku dengan cara memikul beban kerugian perang, keduanya bersedia membayar diyat korban yang terbunuh dalam perang tersebut.
Usaha besar mendamaikan dua suku yang berperang panjang ini berawal dari kecerdikan seorang wanita yang merupakan istri al-Harits bin Auf, dialah yang mendorong suaminya untuk melakukan usaha luhur yang akhirnya berhasil menghentikan perang mendamaikan dua pihak yang bertikai.
Suatu hari al-Harits bin Auf berkata kepada Kharijah bin Sinan al-Murri, “Menurutmu bila aku melamar seseorang, dia menolakku?” Kharijah menjawab, “Ya, ada.” Al-Harits bertanya, “Siapa kira-kira?” Kharijah menjawab, “Aus bin Haritsah ath-Thai. Maka al-Harits berkata kepada pelayannya, “Kita pergi.” Keduanya berkendara sehingga mereka tiba di rumah Aus bin Haritsah. Aus menyambut al-Harits, “Selamat datang untukmu wahai Harits.” Harits menjawab, “Terima kasih.” Aus bertanya, “Apa hajatmu?” Harits menjawab, “Aku datang untuk melamar.” Aus menjawab, “Aku tidak menerima.”
Lalu Aus meninggalkannya dan masuk ke rumah dengan jengkel, istrinya menyambutnya dan bertanya, “Ada apa dengan dirimu? Siapa tamu yang berbicara sesaat denganmu lalu kamu meninggalkannya?” Aus menjawab, “Seorang tokoh Arab, Harits bin Auf.” Istrinya bertanya, “Mengapa tidak dipersilakan masuk?” Aus menjawab, “Dia melakukan sesuatu yang bodoh.” Istrinya bertanya, “Maksudmu?” Aus menjawab, “Dia datang tiba-tiba dan melamar.” Istrinya bertanya, “Apakah engkau tidak ingin menikahkan putrimu?” Aus menjawab, “Ya ingin.” Istrinya berkata, “Bila tidak dengan tokoh Arab, lalu dengan siapa?” Aus menjawab, “Sudah terlanjur, aku menolaknya.” Istrinya berkata, “Masih ada kesempatan bila engkau mau.” Aus bertanya, “Bagaimana caranya?” Istrinya menjawab, “Susul dia, dan katakan kepadanya, ‘Engkau datang di saat yang tidak tepat, maka engkau mendengar jawabanku yang tidak engkau harapkan. Tolong kembalilah ke rumah dan engkau akan mendapatkan apa yang engkau harapkan.”
Kharijah berkata, kamu kembali ke rumah Aus, kami dipersilahkan masuk. Saat kamu duduk, Aus memanggil, “Fulanah.” Dia memanggil anak tertuanya. Dia berkata, “Putriku, dia ini adalah Harits bin Auf, seorang tokoh Arab, dia datang untuk melamar. Bagaimana dirimu, bersediakah?” Putrinya menjawab, “Tidak, karena aku bukan wanita cantik, akhlakku tidak baik, aku juga bukan sepupunya sehingga dia menjaga hubungan kekerabatan, dia bukan tetangga yang merasa perlu malu kepadamu, aku tidak menjamin suatu saat dia akan mentalakku, hal itu sangat menyedihkanku.”
Aus berkata, “Masuklah. Fulanah.” Dia memanggil anak perempuannya yang kedua. Dia berkata seperti yang dia katakan kepada putrinya yang pertama. Maka putrinya yang kedua menjawab, “Aku anak perempuan yang tidak bisa apa-apa, aku tidak menjamin suatu saat dia akan mentalakku, hal itu sangat menyedihkanku, aku juga bukan sepupunya sehingga dia menjaga hubungan kekerabatan, dia bukan tetangga yang merasa perlu malu kepadamu.”
Aus berkata, “Masuklah. Buhaisah.” Aus memanggil anak perempuannya yang ketiga. Dia berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada dua anaknya sebelumnya, maka Buhaisah menjawab, “Baik, saya menerima.” Aus bertanya, “Tetapi dua saudarimu menolak.” Buhaisah menjawab, “Aku adalah wanita dengan wajah yang cantik, bisa melakukan, berakhlak luhur dan berbapak mulia, bila dia nanti metalakku maka dia tidak akan menemukan penggantiku yang baik.”
Akhirnya Aus menikahkan Buhaisah putrinya dengan Harits, selepas akad, sebuah rumah sudah disiapkan untuk mereka, Buhaisah ada di dalam rumah itu. Kharijah berkata, manakala Harits masuk, tiba-tiba dia keluar lagi. Aku bertanya kepadanya, “Sudah selesai?” Harits menjawab, “Belum.” Aku bertanya, “Bagaimana?” Harits menjawab, “Manakala aku datang kepadanya, dia berkata kepadaku, ‘Jangan, aku memohon kepadamu, kurang patut kamu melakukan di tengah-tengah saudara-saudaraku dan bapak ibuku.”
Kharijah berkata, kami pulang, Harits membawa serta istrinya Buhaisah, di tengah perjalanan, kami singgah istriharat, Harits dan istrinya mengambil tempat tersendiri, selang beberapa saat, dia menemuiku, aku bertanya, “Sudah?” Dia menjawab, “Belum, saat aku mendatanginya dan menginginkannya, dia berkata, ‘Tidak, jangan memperlakukanku seperti budak yang dijualbelikan atau wanita tawanan. Nanti saja saat tiba di rumahmu, saat itu engkau menyembeli domba-domba dan unta-unta, engkau mengundang orang-orang.” Harits berkata, “Wahai Kharijah, aku melihatnya sebagai wanita teguh dan berakal.”
Kharijah berkata, kami tiba di kampung halaman kami, lalu Harits mengumpulkan domba-domba dan unta-unta, dia menyembelih semuanya dan mengundang orang-orang, setelah walimah besar digelar, Harits datang kepada istrinya, namun tidak lama dia sudah keluar lagi, aku bertanya kepadanya, “Sudah?” Harits menjawab, “Belum.” Aku bertanya,, “Mengapa?” Harits menjawab, “Saat aku tiba di hadapannya, dia berkata, ‘Engkau sudah melakukan apa yang patut engkau lakukan, namun aku masih belum melihat sesuatu yang diceritakan orang-orang kepadaku tentangmu.’ Aku bertanya, ‘Apa maksudmu?’ Dia berkata kepadaku, ‘Apakah engkau merasa nyaman bersamaku di sini, sementara di luar sana orang-orang Arab saling bunuh membunuh?’ Harits bertanya, ‘Kamu menyuruhku melakukan apa?’ Dia menjawab, ‘Damaikan mereka, setelah itu kembalilah kepadaku dan engkau akan mendapatkan dariku segala yang engkau inginkan.”
Kharijah berkata, maka Harits berkata kepadaku, “Kita pergi.” Lalu kami mendatangi dua kabilah besar yang sedang bertikai, kamu berusaha mendamaikan mereka dan akhirnya mereka mau damai dengan syarat korban yang terbunuh dibayar dengan ganti rugi diyat, maka Harits dan koleganya bersedia memikul ganti rugi diyat yang berjumlah tiga ribu unta yang dibayar selama tiga tahun.
Itulah perdamian dua kabilah yang berperang Abs dan Dzubyan, berkat inisiatif dari seorang istri, Buhaisah pencipta perdamaian. Wallahu a’lam. 

SUmber Dari : http://www.alsofwa.com/18456/buhaisah-pencipta-perdamaian.html
iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Rabu, 25 September 2013

TOKOH ISLAM : Ahmad Deedat



biografi seorang pendebat Islam terkenal dan tiada tandingan abad ini iaitu Ahmad Deedat.

Ahmad Deedat dilahirkan di Surat, India, pada tahun 1918. Beliau tidak dapat kekal bersama dengan ayahnya sehingga tahun 1926. Ayahnya adalah seorang penjahit, akibat dari profesionnya itu telah berhijrah ke Afrika Selatan tidak lama setelah kelahiran Ahmad Deedat.


Tanpa pendidikan formal dan untuk menghindari dari kemiskinan yang amat larat, Ahmad Deedat telah pergi ke Afrika Selatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bersama ayahnya pada tahun 1927. Perpisahan Deedat dengan ibunya pada tahun kepergiannya ke Afrika Selatan untuk menyusul ayahnya itu adalah saat terakhir ia bertemu ibunya dalam hidupnya kerana ibunya telah meninggal dunia beberapa bulan kemudian (dari tarikh penghijrahan Deedat bersama ayahnya ke Afrika Selatan).


Di negeri yang asing, seorang anak lelaki kecil berusia 9 tahun tanpa berbekal pendidikan formal dan penguasaan bahasa Inggeris telah mula menyiapkan peranan yang harus dimainkannya berpuluh-puluh tahun kemudian tanpa disedarinya.


Dengan ketekunannya dalam belajar, anak lelaki kecil tersebut tidak hanya dapat mengatasi hambatan bahasa asing, tetapi juga unggul di sekolahnya. Kegemaran dan hobi Deedat dalam membaca telah menolongnya untuk memudahkan dirinya mendapatkan promosi pendidikan sehingga beliau tamat pendidikan pada darjah 6. Kekurangnya pembiayaan pelajaran menyebabkan sekolahnya tertunda dan di awal usia 16 tahun untuk pertama kalinya ia bekerja dalam bidang retail.


Yang terpenting sekali adalah pada tahun 1936, sewaktu beliau bekerja di kedai / toko Muslim berdekatan sebuah sekolah menengah Kristian di pantai selatan Natal. Penghinaan yang tidak henti-henti dari siswa Misionaris menantang Islam selama kunjungan mereka ke toko Muslim telah menanamkan keinginan beliau yang membara untuk melakukan aksi menghentikan propaganda Kristian yang salah itu.


Mempelajari Kitab Bible


Ahmad Deedat telah berjaya menemukan sebuah buku berjudul Izharul-Haq yang bererti mengungkapkan kebenaran. Buku ini berisi teknik-teknik dan keberhasilan usaha-usaha umat Islam di India yang sangat besar dalam membalas gangguan Misionaris Kristian selama penaklukan Inggeris dan pemerintahan India. Secara khusus, idea untuk menangani debat telah berpengaruh besar dalam jiwa dan diri beliau. Beliau juga turut menghafaz Al-Quran sehinggakan beliau digelar Al-Hafiz.


Beberapa minggu setelah itu, Ahmad Deedat membeli Injil pertamanya dan mula melakukan debat dan diskusi dengan siswa-siswa misionaris. Ketika siswa misionaris tersebut mundur dalam menghadapi argumen balik Ahmad Deedat, secara peribadi telah memanggil guru teologi Kristian kepada siswa-siswa misionaris untuk berdebat bersamanya, bahkan pendeta-pendeta Kristian di daerah tersebut juga turut diajak berdebat bersama Deedat.


Dakwahnya


Keberhasilan-keberhasilan ini telah memacu Ahmad Deedat untuk berdakwah. Bahkan perkahwinan, kelahiran anak dan persinggahan sebentar selama tiga tahun ke Pakistan sesudah kemerdekaannya tidak mengurangi keinginannya untuk membela Islam dari penyimpangan-penyimpangan yang memperdayakan hasil dari para misionaris Kristian yang tidak bertanggungjawab.


Dengan semangat misionaris untuk menyebarkan agama Islam, Ahmad Deedat telah membenamkan dirinya pada sekumpulan kegiatan lebih dari tiga dekad yang akan datang. Beliau memimpin kelas bagi matapelajaran Injil dan memberi sejumlah kuliah ilmu. Beliau mendirikan As-Salaam, sebuah institut untuk melatih para pendakwah Islam. Ahmad Deedat, bersama-sama dengan keluarganya, hampir seorang diri mendirikan bangunan-bangunan termasuk masjid yang masih dikenali sehingga saat ini.


Ahmad Deedat adalah anggota paling awal yang menganggotai Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan menjadi Presidennya, sebuah posisi yang dipegangnya sampai tahun 1996. Ia menerbitkan lebih dari 20 buku dan menyebarkan berjuta-juta salinan secara percuma. Ahmad Deedat mengirim beribu-ribu bahan kuliah ke seluruh dunia dan berdebat dengan pengamal dan paderi Injil pada debat umum. Beribu orang telah memeluk Islam atas rahmat Allah serta hasil usahanya yang tidak pernah mengenal erti penat lelah.


Antara perdebatan beliau yang hebat ialah perdebatan dengan Paderi Josh McDowell bertajuk ‘Benarkah Nabi Isa disalib? dan paderi Jimmy Swaggart bertajuk ‘Adakah Injil kalam Allah?’.


Karya-karyanya


Antara karya beliau yang masyhur ialah seperti ‘The Choice Between Islam and Christianity’, ‘Is the Bible God Word?’, ‘What is His Name?’ dan ‘al-Quran, The Miracles of Miracles’.


Akhir Hayat


Sisa sembilan tahun usia hidupnya, Ahmad Deedat hanya boleh berbaring di tempat tidurnya di Verulam, Afrika Selatan. Dan akhirnya pada 8 Ogos 2005, beliau telah menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah menderita sakit dan kelumpuhan hampir 10 tahun lamanya akibat terserang strok di rumahnya di Trevennen Road di Verulam, provinsi KwaZulu-Natal, Durban.


Ribuan orang dari seluruh Afrika Selatan menghantar jenazah beliau ke tempat peristirehatan terakhirnya. Keranda yang membawa tokoh cendiakawan muslim ini ditutupi kain berwarna hijau dan diusung dari tempat kediamannya di Verulam, Afrika Selatan untuk disolatkan di Masjid Wick Street. Solat jenazah itu diikuti oleh sekitar 1000 orang jemaah dipimpin oleh ulama terkemuka asal Zambia Mufti Ismail Menk. Setelah itu jasadnya dimakamkan di pemakaman umum Islam di Verulam.



Moga Allah menempatkan beliau di kalangan para nabi, orang-orang soleh dan syuhada.

sumber: buku Tokoh-Tokoh Gerakan Islam Abad Moden Siri 2 & http://halaqah.net 
iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Isnin, 23 September 2013

Kepentingan Ibadah Korban Bagi Yang Mampu


Qurban atau udhiyah adalah ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT. Udhiyah bererti haiwan yang disembelih pada hari Idul Adha untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perintah Allah dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak, maka solatlah kerana Tuhanmu dan sembelihlah qurban. (Al-Kautsar: 1-2)
Allah juga berfirman, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya solatku, korbanku (nusuk), hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb sekalian alam, tidak ada sekutu bagiNya.’” (Al-An’am: 162)
Nusuk dalam ayat di atas bererti menyembelih haiwan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.(Minhaj Al-Muslim)
Ulama berbeza pendapat tentang hukum udhiyah kepada dua pendapat; Pendapat jumhur mengatakan sunat muakkad (sangat dituntut) manakala sebahagian ulama mengatakan hukumnya wajib bagi yang mampu.
Pendapat yang mengatakan wajib dipegang oleh Imam Abu Hanifah dan Malik, juga satu riwayat daripada Imam Ahmad. Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikh Al-Islam Ibn Taimiyah. Syaikh Al-Utsaimin mengatakan, “Pendapat yang mewajibkan bagi orang yang mampu adalah kuat kerana banyaknya dalil yang menunjukkan perhatian dan kepedulian Allah padanya.” (Syarh Al-Mumti’)
Antara dalilnya adalah sabda Nabi, “Barang siapa memiliki kelapangan (rezeki) tetapi tidak menyembelih kurban maka jangan sama sekali dia mendekati tempat solat kami.” (Hasan. Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Al-Daraqutni, Al-Hakim)
Dari hadis ini Baginda SAW secara tegas melarang orang yang mampu tetapi enggan berkorban daripada menghampiri tempat solat, menunjukkan meninggalkannya bererti meninggalkan kewajipan.
Baginda juga bersabda, “Barang siapa menyembelih sebelum solat, hendaklah dia mengulangi dengan haiwan lain.” (Al-Bukhari, Muslim, Al-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)
Perintah Rasulullah supaya mengulangi dengan haiwan lain ini menguatkan lagi hujjah pendapat yang mengatakan hukumnya wajib.
Sebagai langkah berhati-hati, ulama menasihatkan kaum muslimin berusaha keluar dari khilaf iaitu melaksanakannya jika mampu. Tambahan pula ia cuma dilakukan setahun sekali dan fadilatnya lebih besar berbanding sedekah dengan harga haiwan korban yang senilai ataupun yang berlipat kali ganda.
Ibadah ini juga sebagai mencontohi sunnah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah menyembelih anaknya Nabi Ismail, lalu kedua-duanya sabar dan mentaatinya, kemudian Allah menggantikan Nabi Ismail dengan kibasy. Maka hendaklah kaum muslimin mencontohi sikap Nabi Ibrahim dan Ismail yang mendahulukan perintah Allah.
SYARAT-SYARATNYA
Seekor kambing atau satu bahagian lembu atau unta yang disembelih cukup untuk mewakili seorang dan seluruh ahli keluarganya. Hal ini dijelaskan dalam hadis Abu Ayyub, “Pada zaman Rasulullah seseorang menyembelih seekor kambing sebagai korban bagi dirinya dan keluarganya.” (Al-Tirmidzi)
Syarat haiwan korban yang pertama iaitu umur minimum; Kambing 1 tahun, lembu 2 tahun, atau unta umurnya 5 tahun. Syarat kedua, hendaklah haiwan itu tidak cacat; tidak buta, tidak sakit, tidak pincang, tidak kurus atau lemah. Ini syarat haiwan yang dibolehkan untuk korban.
Syarat ketiga iaitu dari segi waktu penyembelihan; hendaklah dilakukan pada waktu yang ditentukan oleh syariat iaitu bermula selepas solat hari raya dan setelah khutbah sehingga sebelum terbenam matahari 13 Zulhijjah.
Seorang yang menyembelih sebelum selesai khutbah korbannya tidak diterima dan diperintahkan untuk mengulanginya,“Barangsiapa menyembelih sebelum solat, hendaklah dia mengulanginya” (Bukhari & Muslim).
Sabda Nabi, “Hari tasyriq adalah waktu menyembelih korban” (Riwayat Ahmad). Walaubagaimanapun hadis ini dibicarakan dan ulama berselisih tentang waktu penyembelihan. Majoriti termasuk Imam Abu Hanifah, Malik dan pendapat Imam Ahmad yang terkenal mengatakan waktu menyembelih hanya pada 10, 11, 12 Zulhijjah.
Antara adab melaksanakan korban; disunnahkan bagi orang yang berkorban memakan daging korbannya. Dianjurkan juga orang yang berkorban menyembelih sendiri. Namun jika tidak mampu, hendaklah dia menyaksikan haiwan korbannya disembelih.
Disunatkan membahagi daging korban kepada tiga bahagian; satu bahagian dimakan olehnya dan keluarganya, satu bahagian dihadiahkan kepada kaum kerabat, jiran dan sahabat, dan satu bahagian lagi disedekahkan kepada fakir miskin. Namun jika ada lebihan atau kurang lalu diberi kepada sebahagian orang tanpa memberi kepada sebahagian yang lain (contohnya diberi kepada fakir miskin sahaja), ia dibolehkan.
Tidak boleh menjualkan sesuatu pun dari bahagian korban; dagingnya, kulit, lemak dan sebagainya. Disebut dalam hadis, “Barangsiapa menjual kulit binatang korbannya, maka tidak ada korban baginya.”(Sahih. Al-Hakim)
Juga tidak boleh memberi penyembelih bahagian korban sebagai upah sebagaimana dijelaskan dalam hadis Ali bin Abi Thalib, “Kami dilarang memberi sesuatu pun dari bahagian korban kepada tukang sembelih (sebagai upah kerana ini termasuk jual beli).” (Bukhari & Muslim)
Sebahagian ulama mengatakan boleh memberi sebahagian korban kepada orang kafir jika dia fakir, bertujuan untuk melembutkan hatinya supaya mencintai islam dan mengajaknya kepada Islam.
Apabila masuk bulan zulhijjah, seorang yang ingin berkorban diharamkan memotong rambut, kuku, kulit atau bahagian tubuhnya sehingga haiwannya disembelih. “Apabila masuk 10 hari pertama (Zulhijjah) dan seorang kalian ingin berqurban, maka janganlah dia memotong rambut dan kulitnya sedikit pun.” (Riwayat Muslim).
Hikmahnya kerana orang yang berkorban menyerupai keadaan muhrim (orang yang ihram) maka dia diberi beberapa hukum yang diwajibkan atas orang yang ihram antaranya tidak boleh memotong rambut, kuku, kulitnya. Firman Allah, “Janganlah kamu mencukur (rambut) kepalamu sebelum haiwan korban sampai di tempat penyembelihan.” (Al-Baqarah : 196)
Semoga Allah memberi kelapangan kepada kaum Muslimin untuk menyempurnakan ibadah ini pada setiap tahun, dan semoga Allah menerima korban-korban yang kita lakukan untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Oleh : Dr. Fathul Bari Mat Jahya |  Ilmuan Muda Malysia (ILMU)
Artikel ini disiarkan di akhbar pada Ahad, 22 September 2013
iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Jumaat, 6 September 2013

SALAM


Ucapan salam (sama ada “Salaamun ‘Alaikum” atau “Salaaman” atau “Salaamun”) di dalam al-Quran ada yang ditujukan kepada orang mukmin dan ada yang ditujukan kepada orang kafir atau jahil. Contoh bagi ucapan salam yang ditujukan kepada orang mukmin ialah;


وَإِذَا جَاءكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

“Dan apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka katakanlah kepada mereka: ‘Salaamun ‘Alaikum’ (selamat sejahtera ke atas kamu). Tuhan kamu telah menetapkan bagi diriNya untuk memberi rahmat’” (Surah al-An’am, ayat 54).

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلاَمٌ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Doa ucapan mereka (yakni orang-orang beriman dan beramal soleh) di dalam Syurga itu ialah; ‘Maha Suci Engkau dari segala kekurangan wahai Tuhan!’. Dan ucapan penghormatan mereka di dalam Syurga itu ialah: ‘Salaamun’ (selamat sejahtera). Dan akhir doa mereka ialah; ‘Segala puji dipersembahkan kepada Allah yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam’”. (Surah Yunus, ayat 10)

Contoh ucapan salam yang ditujukan kepada orang kafir atau jahil pula;

وَإِذَا سَمِعُواْ اللَّغْوَ أَعْرَضُواْ عَنْهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ لاَ نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Dan apabila mereka (yakni orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Allah) mendengar perkataan yang sia-sia (dari orang kafir), mereka berpaling daripadanya sambil berkata: ‘Bagi kami amal kami dan bagi kamu pula amal kamu. ‘Salaamun ‘Alaikum’ (selamat tinggallah kamu). Kami tidak ingin berdamping dengan orang-orang yang jahil” (Surah al-Qasas, ayat 55)


وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْناً وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَاماً

“Dan hamba-hamba Allah yang maha rahman, iaitu mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun. Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka berkata; “Salaaman” (al-Furqan, ayat 63).

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka dan katakanlah: ‘Salaamun’. Mereka akan mengetahui kelak” (az-Zukhruf, ayat 89).

Para ulamak tafsir menjelaskan; ucapan Salam apabila dituturkan ia berada di antara dua makna;
1. al-Musalamah/al-Mutarakah; iaitu bermaksud selamat tinggal
2. at-Tahiyyah; iaitu bermaksud mendoakan keselamatan dan keamanan.
(lihat; Ahkam al-Quran, Imam al-Jassas, surah al-Qasas, ayat 55).

Maka apabila ucapan salam itu dituju/diberikan kepada orang kafir atau orang-orang jahil dalam ayat-ayat tadi, maka ia bermaksud mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, yakni kita tidak mahu bersekongkol dengan kesesatan dan kejahilan mereka atau kita membiarkan mereka dengan kejahilan dan kejahatan mereka. Adapun apabila ucapan salam itu diucapkan kepada orang-orang beriman atau kepada ahli-ahli syurga dalam ayat-ayat tadi, maka ia bermaksud mendoakan keselamatan dan keamanan atau memberi penghormatan.

Adakah harus kita memberi salam dengan hanya menyebutkan “Salam” sahaja? Persoalan ini kita akan huraikan di bawah.

LAFAZ-LAFAZ MEMBERI SALAM

1. Lafaz memberi salam yang terbaik ialah;

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Lafaz menjawab salam yang terbaik ialah;

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته 

Diriwayatkan dari Imran Bin Hushain menceritakan; Seorang lelaki datang kepada Nabi –sallalallahu ‘alaihi wasallam- dan memberi salam dengan mengucapkan; Assalamu ‘alikum (السلام عليكم). Nabi menjawab salamnya dan berkata; “Ia mendapat sepuluh ganjaran”. Kemudian datang lelaki yang kedua dan memberi salam dengan berkata; “Assalamu ‘alaikum warahmatullah” (السلام عليكم ورحمة الله). Nabi menjawab salamnya dan berkata; “Ia mendapat 20 ganjaran”. Kemudian datang lelaki yang ketiga dan memberi salam; Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakaatuh” (السلام عليكم ورحمة الله وبركاته). Nabi menjawab salamnya dan berkata; “Ia mendapat 30 ganjaran” (HR Imam ad-Darimi, Abu Daud dan at-Tirmizi. Menurut Imam at-Tirmizi; hadis ini hasan).

Sebahagian ulamak berkata; sebaiknya orang yang memberi salam hanya berhenti pada “warahmatullah” untuk memberi peluang kepada orang yang menjawab untuk membalas dengan yang lebih baik iaitu sehingga “…wa barakaatuh” sebagai menyahut seruan Allah dalam firmanNya (bermaksud); “Dan apabila kamu diberikan penghormatan dengan sesuatu ucapan hormat (seperti memberi salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah dia (dengan cara yang sama)” (an-Nisa’, ayat 86).

2. Sekurang-kurang lafaz memberi salam ialah; Assalamu alaikum (السلام عليكم) sebagaimana dalam hadis tadi. Diharuskan juga dengan lafaz Salaamun ‘Alaikum (سلام عليكم) yakni tanpa “As” iaitu sebagaimana salam para malaikat kepada ahli-ahli Syurga yang diceritakan Allah di dalam al-Quran;

وَقالَ لَهُمْ خَزَنَتُها سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوها خالِدِينَ 

“Dan penjaga-penjaga syurga mengalu-alukan mereka dengan kata-kata: Salaamun ‘Alaikum (Salam sejahtera kepada kamu), berbahagialah kamu, maka silalah masuk ke dalam Syurga ini dengan keadaan tinggal kekal di dalamnya (mereka pun masuk). (Surah az-Zumar, ayat 73)

سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Salaamun ‘Alaikum (Selamat sejahteralah kamu), disebabkan kesabaran kamu. Maka amatlah baiknya balasan amal kamu di dunia dahulu” (Surah ar-Ra’du, ayat 24).

Berkata Imam Abu al-Hasan al-Wahidi; “Kamu boleh memilih sama ada hendak menuturnya dengan ma’rifah (yakni dengan ada “As”) atau dengan nakirah (yakni tanpa “As”)”. Berkata Imam an-Nawawi; “Menuturnya dengan ada “As” adalah lebih baik”. (Lihat; al-Azkar, Imam an-Nawawi). 

3. Adakah harus memberi salam dengan sekadar menyebutkan “Salaam” sahaja (tanpa ‘Alaikum)? Imam Ibnu ‘Athir dalam kitabnya al-Nihayah menyebutkan tiga lafaz salam;
a) As-Salamu Alaikum
b) Salaamun ‘Alaikum
c) Salaamun (tanpa Alaikum)

Jadi berdasarkan kenyataan Ibnu Athir ini, lafaz “Salaamun” (سلام) juga harus digunakan untuk memberi salam. Di dalam al-Quran ada ayat menceritakan para malaikat memberi salam kepada Nabi Ibrahim dengan lafaz “Salaaman” (سلاما) dan Nabi Ibrahim menjawab dengan lafaz “Salaamun” (سلام). Ayat tersebut ialah;

وَلَقَدْ جَاءتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُـشْرَى قَالُواْ سَلاَماً قَالَ سَلاَمٌ

“Dan sesungguhnya telah datang malaikat utusan-utusan kami kepada Nabi Ibrahim dengan membawa berita yang menggembirakan, lalu mereka memberi salam dengan berkata: ‘Salaaman (salam sejahtera)’. Nabi Ibrahim menjawab; ‘Salaamun’’ (salam sejahtera)” (Surah Hud, ayat 69).

Namun ada ulamak berpandangan; lafaz “Salaamun” tidak memadai sebagai lafaz salam kerana ia bukan ucapan yang sempurna. Jika seseorang memberi salam dengan hanya menyebut lafaz itu sahaja, tidak sah salamnya dan tidak wajib dijawab. Mengenai ayat 69 (surah Hud) di atas, ayat tersebut bukanlah bertujuan menceritakan tentang lafaz salam malaikat dan Nabi Ibrahim, akan tetapi hanya menceritakan perbuatan memberi dan menjawab salam antara malaikat dan Nabi Ibrahim. Adapun lafaz salam, maka ia adalah sebagaimana yang disebut dalam ayat 73 (surah az-Zumar) dan ayat 24 (sura ar-Ra’du) tadi iaitu “Salaamun Alaikum”. (Ahkam al-Quran, Imam al-Jassas, surah Hud, ayat 69).

LAFAZ-LAFAZ MENJAWAB SALAM

Lafaz untuk menjawab salam yang paling ringkas ialah;

وعليكم السلام

Jawapan salam yang paling sempurna ialah;

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika dibuang wau (و) iaitu dengan menjawab “Alaikumussalam” (عليكم السلام), jumhur ulamak mazhab Syafi’ie berkata; diharuskan dan dikira menjawab salam (yakni tambahan wau itu –menurut jumhur ulamak mazhab Syafiie- adalah sunat, tidak wajib). Bagaimana jika dibuang perkataan as-Salaam, iaitu dengan kita hanya menjawab ‘Wa ‘Alaikum’ (وعليكم) sahaja? Sebahagian ulamak mazhab Syafi’ie mengharuskannya dan sebahagian mereka tidak mengharuskannya. Adapun jika dibuang wa (و) dan as-salam (السلام), iaitu dengan hanya menjawab “’Alaikum” (عليكم) sahaja, sepakat ulamak mazhab Syafi’ie melarangnya (yakni tidak harus dan tidak dikira menjawab salam).

Bagaimana jika seorang itu menjawab salam dengan lafaz sebagaimana lafaz memberi salam iaitu ia menjawab salam dengan berkata; As-Salamu ‘Alaikum (السلام عليكم) atau Salaamun ‘Alaikum (سلام عليكم)? Jawapannya adalah harus dan dikira menjawab salam (hukum ini disepakati oleh sekelian ulamak mazhab Syafiie). Ia berdalilkan hadis dari Abu Hurairah yang menceritakan; Nabi telah bersabda; “Allah menjadikan Adam setinggi 60 hasta. Apabila Adam selesai diciptakan, Allah berkata kepadanya; “Pergilah kamu kepada kumpulan malaikat itu dan berilah salam kepada mereka. Dengarlah apa jawapan mereka. Sesungguhnya itulah ucapan tahiyyah (aluan) untuk kamu dan zuriat kamu”. Adam pun pergi kepada mereka dan memberi salam; “As-Salamu ‘Alaikum (السلام عليكم)”. Mereka (malaikat) menjawab; “As-Salaamu ‘Alaika (السلام عليك ورحمة الله)” (HR Imam al-Bukhari dan Muslim). Perhatikan; malaikat menjawab dengan jawapan yang sama seperti lafaz memberi salam, menunjukkan bahawa ia adalah harus.


Rujukan;

1. Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 4/498-502.
2. Al-Adab as-Syar’iyyah, Imam Ibnu Muflih, 1/437.
3. Al-Azkar, Imam an-Nawawi, 
4. Ahkam al-Quran, Imam al-Jassas (surah al-Qasas (ayat 55) dan surah Hud (ayat 69)).
5. An-Nihayah, Imam Ibnu Athir (perkataan “سلم”).

Rujukan: http://ilmudanulamak.blogspot.com 
iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Rabu, 17 Julai 2013

Guru Tahfiz Deperlukan


Kami Memerlukan Guru Tahfiz Sepenuh masa

Kelayakan    
   : Lelaki
: Berkelulusan dalam Bidang al-Quran
   : Menghafal al-Quran 30 juz
   : Berusia 20 tahun ke Atas
: Kelebihan kepada Individu Yang belum berkahwin
   ( Tempat Tinggal Disediakan )

Gaji Bulanan
   : RM 1100

Emailkan Resume Anda Kepada :    opentahfizcentre@gmail.com




iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Selasa, 16 Julai 2013

FADHILAT BERPUASA

1223. Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata: "Rasulullah s.a.w bersabda: "Allah berfirman: "Setiap amalan anak Adam adalah untuknya sendiri melainkan puasa, kerana puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa ituadalah benteng, maka jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, hendaknya jangan berkata kotor, juga jangan marah, dan jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaknya ia mengatakan: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa". Demi zat yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya, nafas (bau mulut) orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah daripada wanginya misik. Orang yang berpuasa punya dua kebahagiaan; jika ia berbuka ia gembira, dan jika menemui Rabb-nya nanti, ia akan bahagia dengan puasanya." (HR.Bukhari-Muslim, dan ini redaksi Bukhari)

Dan dalam riwayatnya yang lain: "Ia meninggalkan makanan dan minuman, serta syahwatnya kerana Aku, puasa itu adalah kepunyaan-Ku dan Aku akan membalasnya, dan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kali lipatnya."

Dan dalam satu riwayat Muslim: "Setiap amal perbuatan anak Adam, akan dilipatgandakan, satu kebaikan (dibalas) sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat." Allah s.w.t berfirman: "Melainkan puasa, kerana sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan aku yang akan membalasnya, ia meninggalkan makanan dan minumannya demi Aku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan; gembira ketika berbuka, dan gembira ketika bertemu Rabb-nya, dan nafas (bau mulut) orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah daripada bau misik."













iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Khamis, 11 Julai 2013

Jadual Berbuka & Imsak


iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>

Jumaat, 28 Jun 2013

Album ProSmart 2013

Assalamualaikum w.b.t....
     sempena cuti sekolah pertengahan tahun Open Tahfiz Centre telah mengadakan satu program "Smart Tahfiz" selama dua minggu berturut-turut bermula 27.5.2013 hingga 7.6.2013. Program ini berjaya dilaksananakan dengan kerjasama pengurus dan tenaga pengajar serta komitmen yang amat baik dari peserta-peserta program...Jazakallahukhair..^_^




qct2011's ProSmart13 album on Photobucket
iframe allowTransparency='true' expr:src='"http://www.facebook.com/plugins/like.php?href="/ + data:post.url + "&layout=standard&show-faces=true&width=530&height=60&action=like&colorscheme=light"' frameborder='0' scrolling='no' style='border:none; overflow:hidden; width:530px; height:60px'/>